Wednesday, June 27, 2007, posted by Dj_Rono at 6/27/2007 04:50:00 PM
Panas terik siang itu. Disaat aku sibuk menyelesaikan sisa tulisanku, aku dikejutkan dengan kedatangan anak gadisku. Tatapan kosongnya membuatku takut.
"Akankah semuanya kembali?" ucapnya seraya berbisik.
Aku tergagap. Tak mengerti apa yang ditanyakan. Aku kembali duduk di sofa.

Saat itu aku tak pernah mengerti.

Masih segar diingatanku. Langkah kakinya yang semakin lama semakin cepat melewati kamar Albert dan terus menuju anak tangga untuk mencapai atap apartmen kami. Dia tidak pernah menoleh kebelakang. Berdiri tegak di ujung dan dalam hitungan detik, dia tidak lagi dalam tatapan mataku.
Aku merasa semua isi perutku memenuhi rongga dada, berat dan ber-aduk-aduk. Kakiku tidak merasakan apa-apa. Aku benar-benar kehilangan tubuhku, merasa mengapung di udara. Aku ingin ikut melompat saat itu, sayang aku tak lagi punya tenaga untuk itu.

Bertahun-tahun setelah kejadian itu, setiap pagi bangun dari tidur hatiku meradang menerima kenyataan kalau itu benar-benar terjadi.

Sampai akhirna aku sadar, ternyata aku lebih terlatih menyetir dari pada menjadi orangtua. Kita tidak mau masuk dalam dunia mereka, sehingga komunikasi tidak berlangsung. Satu hal yang terpenting setelah kejadian itu, aku aku benar-benar menyadari untuk mencari titik temu perbedaan prinsip.

Aku tak mau lagi kehilangan. Albert adalah harta paling berharga saat ini.

Labels: